Google
Artikel: Jenis Komentar Spam | Cara Memperbaiki Broken link

Ad 468 X 60

Senin, 08 April 2013

Widgets

Syeikh Ahmad At-Tijani Tokoh Kebangkitan Islam

Biografi Syeikh Ahmad At-Tijani ra - Part 1

sheikh ahmad tijani
Artikel kali ini penulis persembahkan untuk ikhwan Tijani yang ingin mengetahui siapa tokoh dari Tareqat yang wiridnya selama ini diamalkan setiap hari dan ingin mengenal  lebih jauh tentang Syeikh Ahmad At-Tijani ra.Diharapkan dengan lebih mengenal tentang riwayat Syeikh Ahmad At-Tijani ra tidak ada lagi perbuatan yang mengakibatkan merusak citra Tareqat Tijani dan mencoreng tokoh pembawa aliran ini.Seperti kata pepatah Tak Kenal Maka Tak Sayang.
Sebelum memulai artikel ini penulis menghimbau bagi orang-orang yang tidak sejalan dengan Tareqat Tijani diharapkan tidak memberikan komentar yang menuju perdebatan.Mari kita biasakan untuk menghargai perbedaan pendapat yang ada.
Artikel ini penulis buat tatkala sedang melihat-lihat artikel yang pada blog ini di penelusuran google.Pada satu halaman ada yang menjadikan salah satu artikel penulis sebagai bahan artikel di blog tersebut yang memang khusus sebagai wadah mengenai aliran Tareqat Tijani.
Setelah penulis telusuri khusus blog tentang Tareqat Tijani hampir minim sekali yang memuat biografi dari tokoh pembawa Tareqat Tijani ini.Berdasarkan hal tersebut akhirnya penulis memandang perlu membuat artikel yang menceritakan sisi lain dari Tareqat Tijani khusus bagi ikhwan At-Tijani.
بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

As-Syeikh Ahmad At-Tijani sebagai Tokoh Kebangkitan Islam dan Thariqat Tijaniyah sebagai penyebar agama- oleh : Martin Van Bruinessen

Sering masih terdapat salah faham tentang thariqat.Karena Syari'at dan Thariqat dalam satu arti kata merupakan dua tingkat berbeda dalam penghayatan agama.Ada orang yang menganggap bahwa ahli thariqat kurang mementingkan pelaksanaan syari'at.
Memang sepanjang sejarah islam pernah muncul golongan tashawuf yang menganggap bahwa peraturan syari'at hanya berlaku bagi orang awam, sedangkan yang khawash ikut peraturan batin yang peraturan lahir syari'at itu : tetapi golongan ini merupakan minoritas diantara kaum sufi.
Pada umumnya ulama thariqat justru mengindahkan syari'at, As-Syeikh Ahmad At-Tijani ra juga, sebagaimana banyak tokoh tashawuf lainnya, memulai pelajaran agamanya melalui studi fiqih disamping tashawuf.
Telah diketahui bahwa peranan tashawuf dan thariqat besar sekali dalam proses pengislaman di Indonesia.Hampir semua penyebar agama islam di Indonesia ber-thariqat.Dan Patut ditambahkan bahwa selain ilmu tashawuf mereka juga mengajar ilmu fiqih.Mulai dari abad ke 17 (Milad) sampai awal abad ke 19, hampir semua ulama Indonesia yang mengarang kitab tentang fiqih adalah juga terkenal sebagai ahli tashawuf dan thariqat.
Abad ke 9 merupakan suatu masa perubahan besar dunia islam.Kegagalan umat islam di politik internasional.Dengan berkembangnya kolonialisme dan imperialisme barat, membuat orang islam mencari sebab-sebab pemerosotan kekuatan dunia islam.Mulailah gerakan pembaharu dan pemurni, yang melihat penyimpangan dari ajaran islam yang asli sebagai sebab utama kelemahan umat.
Gerakan yang paling ekstrim tentu adalah Wahabiyah, yang tidak saja menyerang adat-adat yang bertentangan dengan islam tetapi juga mengkafirkan tashawuf dan semua amalan thariqat.
Tetapi selain Wahabiyah ada banyak gerakan pembaharu yang kurang radikal, diantaranya adalah Tijaniyah dan Sanusiyah.Kedua-duanya merupakan gerakan pemurni dalam dunia tashawuf yang mengkritik ekses-ekses dan tahayul yang pada masa itu sering terjadi, khususnya di Maghrib.Keduanya pernah menjadi wadah kebangkitan dan penyebaran islam khususnya di Afika.Tidak hanya di Afika saja pada tahun 1940-an,1950-an waktu kedudukan islam di masyarakat Turki sangat mundur sebagai akibat politik sekularisme Ataturk, kita melihat Tijaniyah sebagai gerakan islam yang pertama aktif memperjuangkan re-islamisasi (Pengislaman kembali) masyarakat Turki.

Perjalanan As-Syeikh Ahmad At-Tijani ra

As-Syeikh Ahmad At-Tijani ra dilahirkan pada tahun 1150 Hijri (1737 atau 1738 Miladi) di Ain Madhi,sebuah desa di Aljazair.Nama Tijani diambil dari suku Tijan (suatu suku berber yang hidup sekitar Tilmizan, Aljazair) Dari pihak Ibu As-Syeikh Ahmad berasal dari suku tersebut.Nenek moyang laki-lakinya menurut pengakuan As-Syeikh Ahmad adalah keturunan Nabi.Ayahnya adalah seorang ulama yang terkenal dan terhormat di Ain Madhi.
Sejak kecil Ahmad mulai mempelajari ilmu agama,beberapa kitab fiqih Maliki-madzab yang paling berpengaruh di Maghrib-dipelajarinya.Juga sebuah karya tashawuf karangan Qusyairi yang menguraikan tentang tashawuf sesuai dengan faham tauhid Al-Asy'ari.
Pada usia 21 tahun, Ahmad pindah ke kota Fes di Maroko untuk memperdalam ilmunya.Untuk bagian barat dunia islam kota Fez ini merupakan pusat studi ilmu agama yang terpenting, yang tidak kalah harumnya dengan Kairo.Banyak ulama besar menetap di sana.Ahmad At-Tijani ra tinggal di Fez selama hampir 15 tahun mempelajari antara lain hadits dan tashawuf, dan masuk beberapa thariqat ( Qadiriyah,Nasiriyah dan thariqat Ahmad Al-Habib bin Muhammad).

Menunaikan Ibadah Haji

Pada tahun 1186 (1772 atau 1773) beliau berangkat ke tanah suci.Menunaikan haji pada waktu itu masih suatu perjalanan berat dan memakan  waktu lama.Para haji memanfaatkan perjalanan ini juga untuk menuntut ilmu di berbagai tempat yang dilewati.
Demikian juga As-Syeikh Ahmad, perjalanannya akan makan waktu lima tahun dan pengalamannya banyak.Di Aljazair beliau sempat mempelajari dan masuk thariqat khalwatiyah.Waktu lewat Kairo beliau mencari dan belajar kepada As-Syeikh Khalwatiyah yang sangat terkenal di sana yaitu Mahmud Al-Kurdi.
Setelah menunaikan ibadah haji beliau meneruskan ke Madinah dan bertemu dengan As-Syeikh Muhammad bin Abdul Karim As-Saman, tokoh Khalwatiyah yang juga pernah mempunyai beberapa murid dari Indonesia dan Malaysia (Abdussamad Al-Palimbani,M Arsyad Al-Banjari,Daud bin Abdullah Al Patani)
Menurut riwayat hidup As-Syeikh Ahmad di kitab Jawahirul Ma'ani, As-Syeikh Samman (meninggal dunia tidak lama setelah pertemuan ini,pada tahun 1775) pernah mengatakan bahwa As-Syeikh Ahmad akan menjadi Quthbul Aqthab, yaitu kepala para wali.

Kembali ke Maghrib

Pada tahun 1191 (1778) As-Syeikh Ahmad kembali ke Maghrib.Setelah berkunjung ke Fez beliau menetap beberapa tahun di kota Tilmizan (aljazair).Usianya sekarang melewati 50 tahun.Beliau merupakan seorang ulama "all around' yang telah mempelajari semua ilmu agama dan telah menetap di pusat-pusat pendidikan islam yang paling terkemuka,yaitu Fez, Kairo, Mekkah dan Madinah.Beliau juga telah masuk empat thariqat dan dilantik sebagai khalifah Khalwatiyah untuk daerah Maghrib oleh As-Syeikh Mahmud Al-Kurdi di Mesir.
Juga beliau telah mempelajari karya sufi besar Ibnul Arabi yang serba sulit.Pernah mengalami berbagai hal yang luar biasa.Beberapa gurunya pernah meramalkan bahwa beliau akan mencapai tingkat kewalian yang tinggi.Persiapan untuk peranan lanjut telah selesai dilewati.

Menuju Pedalaman Aljazair

Pada tahun 1196 (1782) As-Syeikh Ahmad meninggalkan kota Tilmizan pergi ke pedalaman Aljazair,desa Sidi Abi Samghun, di tengah padang pasir, menjadi domisilinya yang baru.Disanalah terjadi peristiwa mistis yang pernah diramalkan oleh beberapa syeikh. As-Syeikh Ahmad mengalami "pembukaan besar", Al Fathul Akbar.Pada siang hari, menurut pengakuannya beliau bertemu dengan Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan kepadanya amalan yang sekarang menjadi ciri khas Tahiqat Tijaniyah dan mengizinkannya memulai cara pembinaan umat yang khas Tijani (yang disebut tarbiyah).
Peristiwa ini merupakan lahirnya Thariqat Tijaniyah.Setelah peristiwa itu, As-Syeikh Ahmad mengakui beberapa kali bertemu dengan Nabi SAW.Menurut tradisi kalangan Tijaniyah pada tahun 1214 (1799) ,Nabi SAW memberi dua gelar kewalian yang paling tinggi kepada As-Syeikh Ahmad,yaitu Quthbul Aqthab (atau martabat al-quthbaniyatul 'uzhma) dan Khatmul Wilayah.Kedudukan terakhir yang dicapainya pada tanggal 18 shafar 1214 H dan peristiwa itu yang diperingati sebagai Idul Khatmi Tijani.

Quthbul Aqthab dan Khatmul Wilayah

Syeikh dan wali yang mengaku pernah bertemu dengan Nabi SAW dalam mimpi cukup banyak,tetapi As-Syeikh Ahmad At-Tijani ra yang mengaku bertemu dengan Nabi SAW pada siang hari dalam keadaan sadar atau terjaga.Bagi orang yang percaya bahwa peristiwa ini terjadi hal ini membuktikan bahwa kedudukan As-Syeikh Ahmad di atas semua wali yang lain dan bahwa Thariqat Tijaniyah adalah Thariqat Nabi Muhammad SAW sendiri.Oleh karena itu Thariqat Tijaniyah juga disebut Thariqat Muhammadiyah.
Para lawan As-Syeikh Ahmad dan Thariqat Tijaniyah tentu saja mengingkari peristiwa ini sama sekali atau menganggapnya sebagai bayangan-bayangan.Seperti dalam hak keramat wali yang lain,ada yang percaya dan ada yang tidak percaya.
Saya sebagai pengamat dari luar, merasa tidak mampu dan berwenang membenarkan atau mengingkari peristiwa ini atau mencari penjelasan bagaimana bisa difahami (Martin Van Bruinessen)
Dalam sejarah  tashawuf kita sering berhadapan dengan hal-hal aneh yang tidak masuk akal.Para sufi sering mengatakan hal yang membuat marah orang lain tetapi yang mengandung makna mendalam dibalik artinya yang lahir.
Yang penting bagi saya sebagai seorang pengamat bahwa kepercayaan atau ketidakpercayaan terhadap peristiwa ini merupakan titik perbedaan pokok antara penganut Thariqat Tijaniyah dengan orang muslim yang lain.(Martin Van Bruinessen)
Tetapi perbedaan ini jangan terlalu dibesarkan,Thariqat Tijaniyah bukan merupakan sekte yang menyimpang dari garis besar islam.As-Syeikh Ahmad sendiri telah mengajak para penganutnya meneliti dan memahami ajarannya dalam cahaya syari'at
Terimalah dari kata-kata saya yang sesuai dengan syariat dan buang yang tidak sesuai dengannya.(As-Syeikh Ahmad ra)

Perkembangan pesat Thariqat Tijaniyah di Sidi Abi Samghun

Mulai tahun 1196 (1782) tersebut tadi,jumlah penganut Thariqat Tijaniyah di Sidi Abi Samghun dan wilayah sekitarnya cepat berkembang.Karena kecurigaan pemerintah Turki Utsmani yang pada masa itu masih penguasa Aljazair terhadap pemimpin Thariqat yang kharismatik ini. AS-Syeikh Ahmad mengungsi ke Maroko yang independen.Beliau menetap di Kota Fez dari tahun 1789 sampai meninggal pada tahun 1815.
Banyak dari ulama besar di kota ini tidak menerima klaim-klaim As-Syeikh Ahmad,tetapi Sultan Maroko,Maulay Sulaiman sangat menghormati dan mendukung As-Syeikh Ahmad dan melantiknya sebagai Anggota Dewan Ulama Penasihat Pemerintah.
Dalam pandangan seorang sejarahwan Perancis yang menulis tentang sejarah Maroko,Maulay Sulaiman dan As-Syeikh Ahmad Tijani menjadi sekutu dalam usaha membangkitkan kembali islam dan memerangi khurafat.

Alasan kenapa dilarang ziarah ke makam wali yang lain selain wali Tijani

Pada zaman itu, As-Syeikh Ahmad dan ulama besar lainnya sependapat bahwa umat islam lemah dan sakit.Kelemahan politik dan ekonomi, dalam pandangan mereka,dilatarbelakangi merosotnya aqidah dan ibadah, dan timbulnya banyak paham dan aliran yang sesat.Atas nama tashawuf dan thariqat,banyak khurafat merajalela.Upacara ziarah kubur para wali, yang sangat penting dalam kehidupan dalam kehidupan beragama rakyat Maroko, diwarnai oleh praktek klenik dan pemakaian obat bius yang tidak ada sangkutpautnya dengan tashawuf yang asli.Banyak " Guru" yang mengajar ajaran yang sesat atau menipu dan memperbodoh rakyat awam.
Dalam situasi ini dapat dimengerti kenapa As-Syeikh Ahmad melarang muridnya berziarah ke kuburan wali yang lain dan mencari ilmu kepada wali (atau guru thariqat) yang lain.(Martin Van Bruinessen)
Pertama-tama larangan ini harus dilihat dalam rangka perlawanan terhadap praktek-praktek yang sesat.Kemudian barangkali ada unsur persaingan antara As-Syeikh Ahmad dengan Syeikh-Syeikh yang lain.Dan kalau klaim As-Syeikh Ahmad sebagai Khatmul Wilayah benar, tidak ada alasan lagi untuk mengunjungi wali yang lain.

Dukungan Sultan Maulay Sulaiman

Sultan Maulay Sulaiman sementara itu ingin memerangi klenik,khurafat,pengaruh guru yang memperbodoh rakyatnya,karena keinginginannya atas kebangkitan bangsanya.Karena sikap As-Syeikh Ahmad, Sultan melihatnya sebagai salah seorang sekutu yang paling tangguh dalam perjuangan ini dan sangat memberi dukungan kepada As-Syeikh Ahmad.
Tentang tata cara memerangi kebodohan dan kelemahan umat islam pada zaman itu As-Syeikh Ahmad dan para ulama besar lainnya tidak sependapat.Sedangkan ulama yang lain bicara tentang peningkatan ilmu dan pendidikan agama sementara As-Syeikh Ahmad sebaliknya menghimbau agar umat islam daripada memperdalam ilmu agama menyerahkan diri kepada Allah dan mencari barakah-Nya, yang disalurkan melalui para wali (terutama As-Syeikh Ahmad sendiri, sebagai khatmul wilayah).
Pembinaan moral di Fez, As-Syeikh Ahmad sering dikunjungi oleh orang dari seluruh Maroko ataupun negara-negara teangganya yang berminat dibina olehnya.Setelah selesai proses tarbiyah dilantiknya sebagai muqaddam (pemuka) thariqat di daerah masing-masing.
Pada waktu As-Syeikh Ahmad meninggal dunia,sudah ada pusat penyebaran thariqat di Maroko , Aljazair ,Tunisia dan Mauritania di sebelah selatan Maroko.
Selama abad 19 Thariqat Tijaniyah terus berkembang di Afrika Utara bagian barat (Maghrib),tetapi lebih menonjol lagi,perkembangan Thariqat Tijaniyah ke arah selatan, di daerah yang masih baru mulai kenal islam.Disinilah,didaerah seperti Senegel dan lebih ke selatan lagi Togo,Ghana dan Nigeria,Tijaniyah telah berperan sebagai gerakan pengislaman yang paling efektif.

Gerakan Pengislaman

Di kawasan itu terdapat banyak kerajaan kecil yang sering berperang satu sama lain.Sebagian besar masih animisme,sedangkan di beberapa kerajaan,keluarga raja dan bangsawan sudah masuk islam.Sementara itu di pesisir laut ( Samudera Atlantik) ada benteng-benteng Perancis dan Inggris dan selama abad ke-19 pengaruh mereka terus menyebar ke pedalaman.Menjelang akhir abad ke-19 Perancis sempat menduduki hampir seluruh kawasan ini.
Salah satu tokoh Tijaniyah yang paling terkenal di kawasan tersebut yang cukup berhasil menghentikan pengaruh penjajahan selama hidupnya adalah Al Hajj Umar (H.Umar Said bin Tall) seorang ulama dan mujtahid dari Futa, suatu wilayah di sebelah tenggara Senegal.
Waktu menunaikan ibadah haji pada tahun 1828, Umar bertemu dengan Muhammad Al-Ghali,muqaddam Tijani di Mekkah,yang dilantik oleh As-Syeikh Ahmad Tijani sendiri.Al Hajj Umar sebelumnya telah mengambil Thariqat Tijaniyah di daerah Senegal,Muhammad Al-Ghali membinanya dan akhirnya melantiknya sebagai muqaddam.
Setelah pulang ke kawasan Afika barat, Al Hajj Umar telah bertugas sebagai Qadhi di salah satu kerajaan islam dan banyak berkeliling dalam usaha mengembangkan thariqat di seluruh daerah.
Pada tahun 1845 dia mulai mengklaim gelar Khalifa, yang konon diterimanya melalui petunjuk dari Nabi.Dimana-mana Al-Hajj Umar sangat keras menentang syirik dan mengajak para raja menjalankan syari'at.Sering dia berhadapan dengan bangsawan muslin yang sebagian menganut Thariqat Qadiriyah dan yang bersikap toleran terhadap praktek animisme kaum awam.
Penganut-penganut Al-Hajj Umar yang paling setia berasal dari golongan budak dan suku-suku kulit hitam yang masih baru masuk islam, sedangkan banyak lawannya dari golongan Arab yang merupakan elit di wilayah itu dan menganggap diri lebih mulia dari orang kulit hitam.
Jadi di kawasan ini Thariqat Tijaniyah mewakili sebuah gerakan pemurnian islam, dibandingkan dengan thariqat "estabilished" yang lain, lebih berorientasi kepada syari'at dan sekaligus mewakili golongan bawah.
Al Hajj Umar juga lebih keras sikapnya terhadap baik kerajaan animisme (yang dilihatnya sebagai Darul Harb) maupun penjajah Perancis ( yang dia hanya terima sebagai dzimmi).
Pada tahun 1852 dia mengumumkan jihad, dalam rangka waktu beberapa tahun dia menguasai wilayah yang luas sekali dan praktis bertindak sebagai kepala negara hulu sungai Senegal dan hulu sungai Nigeria.Karenanya, kemajuan Perancis ke pedalaman dihentikan, akhirnya Al-Hajj Umar juga berperang dengan beberapa raja muslim dan salah satunya Ahmadu Syaikhu. Akhirnya mengalahkan Al-Hajj Umar dan membunuhnya (1864)

Perkembangan Thariqat Tijaniyah

Setelah meninggalnya Al-Hajj Umar, kekuasaan Perancis terus berkembang ke kawasan Afrika Barat.Thariqat Tijaniyah tetap mempunyai banyak penganut, namun pemimpin-pemimpinnya bukan aktivis seperti Al-Hajj Umar dulu dan mengakomodasi dengan pemerintah penjajahan.
Dari seluruh negara-negara Afrika Barat,pengaruh Thariqat Tijaniyah paling menonjol di Senegal.Pada tahun 1958 dari 2,28 juta penduduk Senegal 1,03 juta yaitu 45% mengaku sebagai penganut Tijaniyah.
Penyebar Thariqat Tijaniyah yang paling penting disini adalah Al-Hajj Malik Si,yang menjadi muqoddam sekitar tahun 1888 (setelah mengambil thariqat dari suku Idaw Ali di Mauritania, di sebelah utara). Malik Si meninggal dunia pada tahun 1922 dan digantikan oleh anaknya, Abu Bakar Si yang mengklaim gelar khalifa,tetapi tidak diakui oleh semua penganut thariqat.
Sekitar tahun 1925 muncullah seorang muqoddam yang lain, Al Hajj Ibrahim Nayas.Sejak waktu itu, Thariqat Tijaniyah di Senegal terpecah, sebagian berafiliasi dengan keluarga Si, sebagian dengan Ibrahim Nayas.Yang jelas kharisma Ibrahim Nayas jauh lebih kuat.
Waktu dia mulai memakai gelar khalifa pada tahun 1930,tidak banyak orang yang menentangnya.Ibrahim sangat mementingkan tarbiyah.Melalui usahanya,banyak muqaddam dibina dan dikirim ke daerah lainnya di Afika Barat,termasuk daerah yang penduduknya muslim hanya minoritas kecil.
Seringkali masa Al-Hajj Umar dan masa Al-Hajj Ibrahim Nayas dibandingkan sebagai dua masa jihad, Jihad Ashgar dibawah pimpinan Al-Hajj Umar dan Jihad qalb atau jihad akbar dengan Ibrahim Nayas,Tijaniyah di Afrika Barat telah berubah dari gerakan militan menjadi gerakan pembinaan akhlak pribadi,tetapi pengaruhnya rupanya terus berkembang.
Catatan : (Makalah di atas ejaannya sudah diseragamkan)

Semoga bermanfaat
ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ
Anda dapat mengunjungi halaman di bawah ini sebagai tambahan untuk lebih mengenal sosok tokoh pembawa Thariqat Tijaniyah.
Bagi Ikhwan Tijani : Silahkan copy paste artikel ini apabila dirasa bermanfaat untuk menambah pengetahuan para ikhwan Tijani tanpa terlebih dahulu minta ijin dari penulis

Sumber :[1] Makalah Dr. Martin Van Bruinessen dalam panel diskusi tentang Thariqat Tijaniyah di Ponpes Buntet Cirebon, Jawa Barat [2] Buku Thariqat Tijaniyah Mengemban Amanat Rahmatan Lil Alamin, KH.A.Fauzan Adhiman Fathullah,yayasan Al-Anshari Banjarmasin-Kalimantan Selatan,tahun 2007

SHARE THIS POST   

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Digg
  • Technorati
Author: Abdul Basit
Saya Abdul Basit ingin berbagi pengetahuan yang bermanfaatRead More →

2 komentar:

  1. wow...lengkap banget penjabarannya tentang tariqah At Tijani.
    Saya masih belum siap tapi sudah belajar ilmu Tariqah, cuma dikit2 sih...heheheh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sengaja dibuat lengkap agar ikhwan tijani yang baru masuk lebih mengenal tentang tokoh pembawa tarekat tijani.
      Saya sendiri sebelum memutuskan masuk tarekat ini mempelajari berbagai buku dan mengamalkan wiridnya selama hampir 2 tahun,setelah yakin baru masuk secara resmi.
      Apapun tarekatnya bila memakai patokan sesuai syariat adalah aman.
      Selamat belajar mba indah..semoga cepat dapat petunjuk :D

      Hapus